Penokohan “Si Badut” Buah Keserakahan e Pragmatisme TV

Apapun alibi dari peristiwa menerobos yang belum lama dilakukan pedangdut Dewi Persik, televisi terus menerus memberi ruang. Atas dasar memilih konten yang “dimakan” pemirsa, bahkan beberapa stasiun TV membiarkannya bercakap dan berkomedi tunggal di layar kaca.

Pernyataan Pihak Berwenang Seakan Hanya Cuplikan, Tidak Begitu Diagungkan Bak Band Pembuka Dalam Sebuah Tur Mega Band. Itulah Pola yang biasa TV lakukan ketika e un publik figur ( share-maker ) yang terjerat kasus. Kasus DP in serasa mengingatkan kita bahwa terus menerusnya TV menggunakan soundbyte Farhat Abbas e Vicky Prasetyo saat yang bersangkutan tersandung sebuah masalah.

Dewi Perssik (Kiri) yang tengah tersandung kasus pelanggaran lalu lintas with masuk ke jalur bus Transjakarta.

Meski pada prakteknya kicauan mereka dibingkau sebagai omongan badut, namun popularitas mereka tentu melejit seraya kepuasan para penggawa TV atas melejitnya condividi episodi mereka. Ironisnya, tidak logis dan konyol-nya cara bicara mereka (DP, FA, VP, dst) kerap mendatangkan simpati dan dukungan dari segelintir masyarakat. Karena apa? Pada dasarnya manusia memiliki empati, apalagi per il semplice dirottamento di un pubblico pubblico (seperti media sosial) atas ‘dosa’ mereka di layar kaca.

Pola ini juga terjadi pada bagaimana espediente dibenci menjadi senjata bagi seleb-seleb media sosial seperti Karin Novilda (Awkarin) e Samuel Alexander Pieter (Young Lex) menaklukan pemirsa TV. Lebih tepatnya, menaklukan pragmatisme para penggawa programma TV dalam upaya mencari pundi-pundi. Menyedihkan saat TV berita ikut dalam rombongan pragmatis tersebut.

Sai, come mai dai menjadi pragmatis seperti itu? Toh ada untung-sama-untung di sana. TV (katanya) menjaring kepemirsaan yang baik, si tratta di un gioco di parole punk per berkicau (meski kacau). Toh, sebuah media massa (khususnya TV) pada perjalanannya selalu membutuhkan uang dari iklan. Bagusnya data kepemirsaan juga mencerminkan bahwa ada kelompok besar masyarakat yang dimenangkan.

Hal tersebut terjadi dengan sungguh logis. Tapi, apa bisa disamakan logika individu dan logika sebuah lembaga penyiaran? Tentu Tidak. Televisi (terestrama terutama) memiliki tanggung jawab besar karena seyogyanya setiap udara yang jamah oleh sebuah konten dan kemudian dihirup pemirsa adalah sebuah tanggung jawab, tertulis maupun tidak. Jangan pernah gunakan logika perut saat bicara soal lembaga penyiaran.

Begitulah sekiranya determinasi ekonomi yang dulu diramalkan Karl Marx masih terjadi di industri media massa kita saat ini. Hitung-hitungan ekonomi dan terakomodirnya keinginan kapital masih menjadi jantung dalam setiap keputusan yang of ambil di berbagai aspek, termasuk pemilihan konten dalam tayangan TV.

Logika ini y yang membuat Surya Utama (Uya Kuya) con segala manuver kontennya masih menggeliat di layar kaca. Programma “Pagi-pagi Pasti Happy” yang tayang reguler di sebuah stasiun televisi adalah implementasi dag gagasan awal tulisan ini. Programma tersebut menjadi panggung bagi nama-nama selebritis yang tengah menjadi sorotan atas kasus yang menimpanya.

Salah satu cuplikan programma “Pagi-pagi Pasti Happy”

Jangankan cuplikan statement, programma in studio menjadikan e episodio panggung berkicaunya seleb-seleb ‘fenomenal’ share pendomplang . Bukan hal aneh jika dalam beberapa waktu ke depan sosok Dewi Persik muncul di acara tersebut dan bagai orang cerdas berkomedi tunggal menjabarkan alibi-alibi mengapa penerobosan jalur bus Transjakarta terjadi.

Secara ekonomi stasiun TV dimenangkan, secara pencapaian popularitas selebiriti dimenangkan. Lalu apakah kecerdasan bangsa sebagai mimpi lembaga penyiaran dimenangkan? Biar Anda simpulkan sendiri dengan bagaimana Anda meninterpretasikan fenomenoena ini. Pasalnya, seberapapun tingkat kebodohan / kepintaran mereka dalam memaparkan sebuah isu yang nyata, akan tetap ada sekumpulan masyarakat yang terhipnotis simpati dan to tapap menjadi pendukung setia oknum-oknum tersebut.

Sekali lagi, keserakahan dan pragmatisme TV modello melahirkan – modello di ruolo baru dalam sosial masyarakat, dan tentu kapasitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Altre informazioni, traduzione gratuita di musica / pendenti dell’era sudah berganti dari TV ke media digitale berlina dunia maya, fakta mencatat bahwa TV masih menjadi platform media yang palk dikonsumsi of Indonesia.

Con i dati più recenti dati trasmessi dalla TV, la TV è stata creata con il cuore, il cangiano e il cidung tidak skeptis dalam meyaksikan siaran televisi. Mereka lah yang harus diselamatkan, merekalah seharusnya harapan dari kecerdasan bangsa yang dimenangkan. Janganlah kapentingan kapital selalu diakomodir di atas kekalahan kecerdasan bangsa.

Panggung akan menjadikan seorang superstar menjadi superstar, menjadi imam atas makmum-makmum with kesadaran semu. Menjadi sebuah pilihan imam siapa yang kita pilih dan kesadaran apa yang ingin kita tanamkan pada mereka yang tehipnotis layar kaca.